
[Pedometrics 2026 β Second Announcement] ππ±
23 April 2026Oleh : Muhamad Kundarto
Keberhasilan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di kawasan gambut tidak cukup diukur dari hilangnya nyala api di permukaan dan asap di atasnya. Kebakaran bisa kembali terulang dengan waktu dan tempat yang sulit diprediksi, jika kita tidak mampu melakukan upaya pencegahan berdasarkan jenis bahan yang mudah terbakar, tata air, dan perilaku Masyarakat baik secara individu, kelompok, maupun dalam dukungan koorporasi.
Gambut adalah tanah kaya bahan organik yang menyimpan air, yang kondisinya relative aman apabila tetap dalam suasana tergenang. Ketika kanal dibuat untuk mengeringkan lahan dan muka air tanah turun, di situlah dimulai posisi rawan yang utama. Lapisan atas gambut akan kehilangan kelembapan dan mudah menjadi kering. Suasana kering inilah yang menjadikan mudah mengalami pembakaran membara (smouldering), dimana api akan merambat baik secara horizontal maupun vertical. Sering terjadi sedikit nyala tetapi menghasilkan asap terus-menerus.
Inilah yang menyebabkan penyiraman permukaan sering kurang efektif, karena tidak bisa menjangkau ke semua sumber panas, terutama yang berada jauh di kedalaman. Maka sangat penting melakukan pembasahan bagian gambut yang benar-benar membara. Masalahnya kekeringan yang terjadi pada kemarau panjang (elnino) makin memperparah potensi kebakaran, karena lahan gambut mengalami kekeringan ekstrem dan sumber air untuk pemadaman dan pembasahan menjadi lebih terbatas.
Kontrol terhadap kedalaman muka air tanah adalah kunci mengurangi resiko kebakaran dan jaminan keamanan yang berlaku di semua tempat. Kedalaman muka air tanah perlu dipertahankan maksimal 40 cm di bawah permukaan. Namun resiko kebakaran pada kondisi terlalu kering seperti elnino tahun ini, muka air harus dibuat lebih dangkal lagi. Artinya harus mengelola agar genangan tetap dipertahankan, sehingga tercapai keseimbangan suasana kelembaban yang aman dari resiko kebakaran. Selain itu, factor lain juga perlu diperhatikan, seperti curah hujan, sifat gambut, tutupan lahan dan sumber penyulutan.
Kita perlu melakukan langkah teknis yang berlaku sebelum, saat dan setelah kebakaran sbb. :
SATU
Memetakan resiko berdasarkan peta KHG (Kesatuan Hidrologis Gambut), kanal, riwayat kebakaran, tutupan lahan, akses air, dan kedalaman muka air tanah. Kita perlu memadukan data dari hasil pengamatan lapangan dengan perkiraan cuaca BMKG dan pemantauan titik api dari citra satelit.
DUA
Perlu upaya pencegahan pengeringan lahan dan penyulutan api. Gambut perlu dilindungi agar tetap utuh. Gambut yang terdegradasi perlu dipulihkan dengna pengaturan kanal dan pembasahan Kembali. Perlu dipersiapkan patrol rutin, pemetaan sumber air dan mendukung kegiatan pemanfaatan lahan oleh masyarakat yang tanpa melakukan pembakaran.
TIGA
Perlu verifikasi titik panas atau titik api di lapangan sedini mungkin. Tim perlu berlatih untuk menentukan batas kebakaran, prediksi arah rambatan api, prediksi kedalaman bagian yang membara, keberadaan sumber air dan membuat alur kerja yang aman.
EMPAT
Perlu upaya pemadaman dengan kewaspadaan pemeriksaan ulang. Padamkan api di permukaan, lalu alirkan alir secara memadai ke lapisan gambut yang panas. Bila perlu lakukan pembasahan presisi ke lapisan bawah permukaan. Perlu juga memeriksa kembali terhadap asap dan panas di kedalaman, termasuk bagian tepi area yang terbakar.
LIMA
Perlu memulihkan faktor penyebab, yaitu memperbaiki tata air dan tutupan vegetasi. Muka air tanah juga perlu dipantau seiring waktu, termasuk potensi kebakaran berikutnya.
Upaya menurunkan kejadian kebakaran dengan cara melakukan pencegahan, yang mencakup analisis iklim, deteksi dini dan meningkatkan intensitas patrol, serta pengelolaan muka air gambut dalam kondisi yang aman. Pemadaman api di lahan gambut hanyalah langkah awal. Sedangkan menjaga tanah gambut agar tetap basah adalah pekerjaan jangka panjang.




